Rabu, 05 Oktober 2011

Konjungtivitis

A.    Konjungtivitis Karena Agen Infeksi
Karena lokasinya, konjungtiva terpapar terhadap banyak mikroorganisme dan factor lingkungan yang mengganggu. Mekanisme perlindnungannya antara lain film air mata, mukus yang akan menangkap debris, dan air mata yang mengandung lisozim dan antibodi. Patogen umum yang dapat menyebabkan konjungtivitis adalah Streptococcus pneumonia, Haemophilus influenza, Staphylococcus aureus, Neisseria meningitides, kebanyakan strain adenovirus manusia, virus herpes simpleks tipe 1 dan 2, dan dua pikorna virus. Selain itu dapat pula oleh Chlamidya trachomatis dan Neisseria gonorrhea. Jamur dan parasit juga dapat mengakibatkan penyakit ini namun jarang terjadi. Gejalanya sensasi benda asing, yaitu sensasi tergores atau panas, sensasi penuh di sekitar mata, gatal, dan fotofobia. Tandanya hyperemia, mata berair, eksudasi, pseudoptosis, hipertrofi papiler, kemosis, folikel, pseudomembran dan membrane, granuloma, dan adenopati pre-aurikuler. Terapi spesifik tergantung etiologinya. Sambil menunggu pemeriksaan lab dapat dimulai dengan terapi antibiotik topical.

B.    Konjungtivitis Hipersensitivitas
Dapat dibagi menjadi langsung (alergi) dan tpe lambat. Pada konjungtivitis hipersensitivitas langsung (alergi) dibagi lagi menjadi konjungtivitis demam jerami, keratokonjungtivitis vernalis, atopic, dan konjungtivitis papilaris raksasa. Pada konjungtivitis alergi ini tidak ada terapi spesifik. Yang dapat dilakukan adalah menghindari allergen penyebabnya. Konjungtivitis tipe lambat dapat dibagi menjadi phlyctenulosis dan konjungtivitis ringan sekunder terhadap blefaritis kontak. Untuk kasus-kasus ini dapat digunakan pengobatan terhadap penyakit penyebab, dan steroid bia efektif unutk mengatasi gejala akut.

Daftar pustaka : Schwab, Ivan R. Chandler R. Dawson. 2000. Konjungtiva. Dalam : Oftalmologi Umum edisi 14 hal 99-126. Jakarta: Widya Medika.
READ MORE - Konjungtivitis

Palpebra

A.      Infeksi dan Radang dari Palpebra
1.    Hordeolum
Hordeolum adalah infeksi pada kelenjar palpebra. Bila kelenjar meibom yang terkena, timbul pembengkakan besar yang disebut hordeolum interna. Hordeolum externa yang lebih kecil dan superficial adalah infeksi kelenjar Zeis atau Moll. Gejala utama sakit, merah, dan bengkak. Kebanyakan etiologinya Staphylococcus aureus. Penatalaksanaanya kompres panas, 3-4 kali sehari selama 10-15 menit. Jika tidak membaik dalam 48 jam, dilakukan insisi dan drainase bahan purulen. Salep antibiotika pada sakus konjungtiva setiap 3 jam ada manfaatnya. Antibiotika sistemik diindikasikan jika terjadi selulitis.
2.    Chalazion
Chalazion adalah radang granulomatosa menahun steril dan idiopatik pada kelenjar meibom; umumnya ditandai pembengkakan terbatas yang terasa sakit dan berkembang dalam beberapa minggu. Jika cukup besar sebuah chalazion dapat menekan bola mata dan menimbulkan astigmatisme. Jika cukup besar sehingga mengganggu penglihatan atau secara kosmetik mengganggu, dianjurkan eksisi lesi.
3.    Bhelpharitis Anterior
Bhelpharitis anteroro adalah radang bilateral menahun umum tepian palpebra. Ada dua jenis utamanya: stafilokok, yang diakibatkan Staphylococcus aureus,  dan seborrheik yang diakibatkan Pityrosporum ovale. Gejala utama adalah iritasi, perasaan seperti terbakar dan gatal pada tepian palpebra. Penatalaksanaannya dengan pemberian antibiotik.
4.    Bhelpharitis Posterior
Bhelpharitis posterior adalah peradangan palpebra karena disfungsi kelenjar meibom. Bentuk kondisi ini menahun dan bilateral. Bhelpharitis posterior bermanifestasi aneka macam gejala, yang mengenai palpebra, air mata, konjungtiva, dan kornea. Terapinya dengan menggunakan antibiotik.

B.      Deformitas Anatomik Kelopak Mata
1.       Entoprion
Entoprion-pelipatan kelopak kea rah dalam-dapat disebabkan oleh involusi (spastic, ketuaan), sikatrik, atau congenital. Entoprion dapat menyebabkan bulu mata mengenai kornea yang disebut trikhiasis. Keadaan ini dapat mengakibatkan iritasi kornea dan mendorong ulserasi. Penatalaksanaan entoprion adalah pembedahan.
2.       Ektoprion
Ektoprion-penurunan dan terbaliknya palpebra inferior kea rah luar-umumnya bilateral; dan sering ditemukan pada orang tua. Ektoprion dapat disebabkan pengenduran muskulus orbikularis okuli akibat menua atau kelumpuhan nervus ketujuh. Gejalanya adalah berair mata dan iritasi.Penatalaksanaannya adalah pembedahan.

Datar pustaka : Sullivan, John H. 2000. Palpebra & Aparatus Lakrimalis. Dalam : Oftalmologi Umum edisi 14 hal 81-98. Jakarta: Widya Medika. 
READ MORE - Palpebra

Faringitis

Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang dapat disebabkan oleh virus (40-60%), bakteri (5-40%), alergi, trauma, toksin, dan lain-lain. Virus dan bakteri melakukan invasi ke faring dan menimbulkan reaksi inflamasi lokal. Infeksi bakteri grup A Streptococcus b hemolitikus dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang hebat, karena bakteri ini melepaskan toksin ekstraselular yang dapat menimbulkan demam reumatik, kerusakan katup jantung, glomerulonefritis akut karena fungsi glomerulus terganggu akibat terbentuknya kompleks antigen-antibodi. Bakteri ini banyak menyerang anak usia sekolah, orang dewasa, dan jarang pada anak umur kurang dari 3 tahun. Penularan infeksi melalui sekret hidung dan ludah (droplet infection). Faringitis dibagi menjadi:
1.      Faringitis akut
Secara garis besar, proses terjadinya faringitis akut, pada stadium awal, terjadi hiperemia, kemudian edema, dan sekrei yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi menebal atau berbentuk mukus, dan kemudian cenderung menjadi kering dan dapat melekat ke dinding faring membentuk pseudomembranosa. Contohnya : faringitis viral, faringitis bacterial, faringitis fungal, dan faringitis gonorea
2.      Faringitis kronik
Dibagi menjadi :
a. Faringitis kronik hiperplastik
b. Faringitis kronik atrofi
3. Faringitis spesifik
Dibagi menjadi
a. Faringitis luetika
b. Faringitis tuberkulosis
READ MORE - Faringitis

Adenotonsilitis kronis

Adenotonsilitis kronis adalah infeksi yang menetap atau berulang dari tonsil dan adenoid. Definisi adenotonsilitis kronis yang berulang terdapat pada pasien dengan infeksi 6x atau lebih per tahun. Ciri khas dari adenotonsilitis kronis adalah kegagalan dari terapi dengan antibiotik. Penyebab yang tersering pada adenotonsilitis kronis adalah bakteri Streptococcus ß hemoliticus grupA, selain karena bakteri tonsilitis dapat disebabkan oleh virus. Kadang-kadang tonsillitis dapat disebabkan oleh bakteri seperti spirochaeta, dan Treponema vincent.
Gejala adenotonsilitis kronis adalah sering sakit menelan, hidung tersumbat sehingga nafas lewat mulut, tidur sering mendengkur karena nafas lewat mulut sedangkan otot-otot relaksasi sehingga udara menggetarkan dinding saluran nafas dan uvula, sleep apnea symptoms, dan maloklusi. Facies adenoid : mulut selalu membuka, hidung kecil tidak sesuai umur, tampak bodoh, kurang pendengaran karena adenoid terlalu besar menutup torus tubarius sehingga dapat terjadi peradangan menjadi otitis media, rhinorrhea, batuk-batuk, palatal phenamen negatif. Pasien yang datang dengan keluhan sering sakit menelan, sakit leher, dan suara yang berubah, merupakan tanda-tanda terdapat suspek abses peritonsiler.
Komplikasi adenoiditis kronik adalah : faringitis, bronkitis, sinusitis kronik, otitis media akut berulang, otitis media kronik, dan akhirnya terjadi otitis media supuratif kronik. Sedangkan komplikasi Tonilitis kronik : Rinitis kronis, sinusitis, otitis media secara perkotinuitatum, dan komplikasi secara hematogen atau limfogen (endokarditis, miositis, nefritis, uveitis, iridosiklitis, dermatitis, furunkulosis). Tonsilektomi dilakukan bila terjadi infeksi yang berulang atau kronik.
READ MORE - Adenotonsilitis kronis

Pharynx

Pharynx adalah suatu kantong fibromuskular yang berbentuk corong, besar di bagian atas dan sempit di bagian bawah. Kantong ini mulai dari basis cranii terus menyambung ke oesofagus setinggi vertebra servikal ke VI. Pada bagian atas, pharynx berhubungan dengan rongga hidung melalui choana, pada bagian depan berhubungan dengan cavum oris melalui isthmus oropharynx, sedangkan hubungan dengan larynx melalui additus laringeus dan ke bawah berhubungan dengan oesofagus. Panjang dinding posterior pharynx pada orang dewasa kurang lebih 14 cm dan merupakan bagian dinding pharyngx yang terpanjang. Dinding pharynx dibentuk oleh selaput lendir, fascia faringobasiller, pembungkus otot dan sebagian fascia bukofaringeal. Pharynx terbagi atas nasopharynx, oropharynx dan laryngopharynx.
Atap nasopharynx sesuai dengan dasar corpus ossis sphenoidalis yang mengandung sinus sphenoidalis. Batas depan dari nasopharynx adalah choana yang merupakan muara dari cavum nasi. Dinding belakangnya sesuai dengan vertebra sevikalis I dan II. Batas bawahnya dibentuk oleh palatum molle dan rongga nasopharynx terpisah dari oropharynx pada waktu menelan oleh kontraksi otot-otot palatum molle (m.tensor veli palatini dan m.levator veli palatini) bersama dengan m.constrictor faringis superior (Ballenger, 1994).
Nasopharynx relatif kecil mengandung serta berhubungan erat dengan struktur seperti adenoid, jaringan limfoid pada dinding lateral pharynx dengan recessus pharynx yang disebut fossa Rosenmuller. Kantong Rathke yang merupakan invaginasi struktur embrional hipofisis cerebri. Torus tubarius merupakan suatu refleksi mukosa pharynx, di atas penonjolan cartilago tuba eustachius, choana, foramen jugulare yang dilalui oleh n. glossopharingeus, n.vagus, dan n.asecorius spinal saraf cranial dan v. jugularis intema, bagian atas petrosus os temporalis dan foramen laserum serta muara tuba eustachius (Adams,1997).
Struktur penting yang ada di Nasopharynx
1.   Ostium Pharingeum tuba auditiva muara dari tuba auditiva.
2.   Torus tubarius, penonjolan di atas ostium faringeum tuba auditiva yang disebabkan karena cartilago tuba auditiva
3.   Torus levatorius, penonjolan di bawah ostium faringeum tuba auditiva yang disebabkan karena musculus levator velli palatinae
4.   Plica salpingopalatina, lipatan di depan torus tubarius
5.   Plica salpingopharingea, lipatan di belakang torus tubarius, merupakan penonjolan dari musculus salphingopharingeus yang berfungsi untuk membuka ostium faringeum tuba auditiva terutama ketika menguap atau menelan
6.    Recessus Pharingeus disebut juga fossa rossenmuller merupakan tempat predileksi Nasopharingeal Carcinoma
7.   Tonsilla pharingea, terletak di bagian superior nasopharynx. Disebut adenoid jika ada pembesaran, sedangkan jika ada inflamasi disebut adenoiditis
8.    Tonsilla tubae, terdapat pada recessus pharingeus
9.   Isthmus pharingeus merupakan suatu penyempitan di antara nasopharynx dan oropharynx karena musculus sphincterpalatopharing
10.   Musculus constrictor pharingeus dengan origo yang bernama raphae pharingei.
Cincin waldeyer merupakan jaringan limfoid yang mengelilingi pharynx. Bagian terpentingnya adalah tonsilla palatina dan tonsilla pharingeal. Unsur yang lain adalah tonsilla lingual, gugus limfoid lateral faring dan kelenjar-kelenjar limfoid yang tersebar dalam fossa Rosenmuller, di bawah mukosa dinding posterior pharynx dan dekat orifisium tuba eustachius ( Ballenger, 1994).
Fungsi pharynx yang utama ialah untuk respirasi, waktu menelan, resonasi suara dan untuk artikulasi. Sementara itu, adenoid merupakan bagian imunitas tubuh dalam cincin Waldeyer. Adenoid memproduksi IgA sebagai bagian penting sistem pertahanan tubuh garis depan dalam memproteksi tubuh dari invasi kuman mikroorganisme dan molekul asing (Christiane, 2009).
READ MORE - Pharynx

Adenoid

Adenoid merupakan masa limfoid berlobus yang terdiri dari jaringan limfoid yang sama dengan yang terdapat pada tonsil. Lobus atau segmen tersebut tersusun teratur seperti suatu segmen terpisah dari sebuah ceruk dengan celah atau kantong diantaranya. Lobus ini tersusun mengelilingi daerah yang lebih rendah di bagian tengah, dikenal sebagai bursa faringeus. Adenoid tidak mempunyai kriptus dan terdiri atas rangka jaringan ikat fibrosa yang menunjang massa limfoid. Jaringan ini terisi pembuluh darah dan pembuluh limfe, sedangkan di beberapa tempat terdapat kelompok-kelompok kelenjar mukosa di dalam septa yang bermuara ke arah permukaan. Kelenjar mukosa sering terdapat di dalam adenoid pada permukaan dasarnya. Ditengah-tengah jaringan ikat halus terdapat kumpulan sel-sel leukosit atau sel-sel limfoid dan bergabung menjadi jaringan limfoid yang membentuk adenoid (Rusmarjono, 2004).
Adenoid terletak di dinding belakang nasofaring. Jaringan adenoid di nasofaring terutama ditemukan pada dinding atas dan posterior, walaupun dapat meluas ke fossa Rosenmuller dan orifisium tuba eustachius. Ukuran adenoid bervariasi pada masing-masing anak. Pada umumnya adenoid akan mencapai ukuran maksimal antara usia 3-7 tahun kemudian akan mengalami regresi (Fernandez D, Muradas M, 2005).
READ MORE - Adenoid