Rabu, 18 Februari 2009

Osteoarthritis (OA)

Pada kasus kali ini diinformasikan bahwa seorang perempuan, kuli bangunan ,(60 th) mengeluh nyeri sendi lutut kiri. Hal ini timbul-hilang selama dua tahun dan diperberat dengan jalan dan naik tangga. Hasil pemeriksaan fisik, darah, dan x foto rontgent didapatkan: tanda radang, keterbatasan ROM, osteofit, BMD mengarah osteoporosis, CRP meningkat, dan Rematoid faktor negatif. Penderita diberi terapi obat osteoarthritis dan osteoporosis.

Ketika melihat hasil pemeriksaan fisik, hipotesis yang terlintas adalah penderita menderita osteoarthritis . Hipotesis ini didukung oleh nyeri pada sendi lutut yang merupakan penopang berat tubuh, keterbatasan ROM, timbulnya osteofit, dan CRP yang meningkat.
Tulang rawan hialin adalah jaringan elastis yang berfungsi sebagai bantalan dimana tulang bertemu dan bergerak. Dengan adanya bantalan tersebut maka tidak akan terasa sakit saat menggerakan persendian. Apabila kerusakan tulang rawan hialin lebih cepat dari pembentukannya akan terjadi penipisan tulang rawan dan kehilangan minyak sinovial yang akan membuat nyeri ketika tulang bersentuhan. Kerusakan tulang rawan yang terjadi menyebabkan perubahan pada sendi dan tulangnya sehingga apabila terjadi gesekan, lama-kelamaan permukaan sendi akan menjadi aus dan terjadi kompensasi tubuh dimana terbentuk tulang baru yang disebut osteofit. Namun, osteofit ini malah membuat sendi menjadi kaku sehingga terjadi keterbatasan ROM.
Seperti dicantukan pada skenario, didapatkan tanda radang dan peningkatan CRP. Osteoarthritis memang bukan merupakan peradangan, namun tanda-tanda peradangan pada osteoarthritis timbul sebagai proses perjalanan suatu penyakit, bukan merupakan penyebab primer dari osteoarthritis. Sedangkan, CRP merupakan protein fase akut yang timbul akibat proses inflamasi. Pada kasus kali ini terjadi peningkatan CRP yang mengindikasikan terjadinya proses inflamasi. Pada osteoarthritis, biasanya terjadi peradangan sinovial.
Pada orang dewasa terdapat suatu keseimbangan dinamis antara pembentukan dan penyerapan tulang. Osteoporosis timbul jika keseimbangan ini bergeser ke arah penyerapan tulang oleh osteoklas. Diketahui bahwa sel stroma dan osteoblas mensintesis dan mengekspresikan pada membran selnya suatu anggota family TNF yang disebut ligan RANK. Ligan RANK berikatan dengan suatu molekul reseptor yang dikenal dengan singkatan RANK. Ligan RANK dihasilkan olrh osteoblas dan sel stroma, reseptornya (RANK) diekspresikan oleh makrofag. Apabila ligan RANK pada osteoblas dan stroma bertemu dengan reseptor RANK pada makrofag, akan terjadi perubahan makrofag menjadi osteoklas. Jadi, pengaktifan reseptor RANK merupakan stimulus utama terjadinya resorpsi tulang. Aktivitas jalur ligan RANK-RANK diatur oleh sebuah molekul yang disebut osteoprotegerin (OPG), yang juga disekresikan oleh sel stroma/ osteoblas. OPG merupakan reseptor pengikat yang dapat mengikat ligan RANK sehingga tidak dapat berikatan dengan reseptor RANK, sehingga secara tidak langsung mengganggu fungsi penyerapan tulang. Disregulasi RANK, ligan RANK, dan OPG adalah faktor utama dalam patogenesis osteoporosis. Ketiga hal ini diatur oleh banyak hal, salah satunya adalah oleh estrogen. Estrogen merangsang pembentukan OPG sehingga menghambat pembentukan osteoklas serta menumpulkan responsivitas prekursor osteoklas terhadap ligan RANK. Selain itu penurunan estrogen juga menyebabkan peningkatan produksi IL-1 dan TNF yang merangsang pembentukan ligan RANK dan macrophage colony – stimulating factor. Pada kasus kali ini, osteoporosis yang terjadi dikarenakan faktor usia lanjut dimana kadar estrogen yang menurun, jumlah osteoklas yang meninggi, dan penggunaan kortikosteroid jangka panjang.
Osteoporosis adalah suatu penyakit multifaktor. Pengurangan tulang terkait usia, yang terutama disebabkan oleh penurunan pembentukan tulang, umum terjadi pada semua bentuk osteoporosis generalisata primer. Pada perempuan pasca menopause, pengurangan ini diperparah dengan peningkatan resorpsi tulang, serta oleh penurunan lebih lanjut sintesis tulang akibat berkurangnya kadar estrogen. Oleh karena itu, pada osteoporosis terjadi, baik penurunan pembentukan tulang maupun peningkatan kehilangan tulang. Meskipun kedua faktor ini berperan pada sebagian besar kasus osteoporosis, kontribusi relatif masing-masing terhadap pengurangan tulang mungkin berbeda-beda, bergantung pada usia, jenis kelamin, status gizi, dan pengaruh genetik (Kumar, 2007).


0 comments: