Jumat, 27 Juni 2008

Leptospirosis

Etiologi
Leptospirosis adalah zoonosis yang tersebar di seluruh dunia. Ia disebabkan oleh spirocheta dari genus leptospira. Sistem klasifikasi tradisional didasarkan atas patogenitas yang membedakan antara spesies patogen yaitu Leptospira interrogans dan spesies nonpatogen yang hidup bebas, yaitu Leptospira biflexa. Leptospira berbentuk ulir yang rapat, tipis dengan panjang 5-15 mm. Leptospira dapat hidup berminggu-minggu di dalam air, khususnya pada pH basa. (Brooks, 2005)

Patogenesis
Leptospirosis merupakan salah satu penyakit spiroketa pada manusia. Spiroketemia merkembang segera setelah masuknya leptospira melalui kulit atau selaput lendir, dengan perluasan cepat keseluruh jaringan dan cairan tubuh. Sesuai dengan respon imun, spiroketemia dapat berkembang semakin lanjut atau berkurang; namun demikian, organisme dapat menetap di bagian tubuh dengan kekebalan terbatas. Pada leptospirosis, menetapnya bakteri pada ginjal dan penyimpanan bakteri dalam urin penting dalam epidemiologi. Manifestasi lanjut seperti meningitis aseptic dan iridosiklitis, diperkirakan diperantarai secara imunopatologis. Kejadian seperti ini merupakan gambaran pada setiap penyakit spiroketa (White, 1999).
Manifestasi Klinik
Manifestasi sering berupa demam, menggigil, sakit kepala, meningismus, anoreksia, mialgia conjuctival suffusion, mual, muntah, nyeri abdomen, ikterus, hepatomegali, ruam kulit, fotopobi. (Zein, 2007)

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium darah rutin dijumpai leukositosis, normal, atau sedikit menurun disertai gambaran neutrofilia dan LED meninggi. Pada urin dijumpai proteinuria, leukosituria, dan torak (cast). Bila organ hati terlibat, bilirubin direk meningkat tanpa peningkatan transaminase. BUN, ureum, dan kreatinin juga bisa meninggi bila ada komplikasi pada ginjal. Trombositopenia terdapat pada 50% kasus. Diagnosis pasti dengan isolasi leptospira dari cairan tubuh dan serologi. (Zein, 2007)

Penatalaksanaan
Obat microbial yang dipakai cukup banyak, meliputi: penisislin, streptomisin, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin maupun siprofloksasin. Tindakan suportif diberikan sesuai dengan keparahan penyakit dan komplikasi yang timbul. Kalau terjadi gangguan fungsi hati, diberikan diet serta perawatan untuk penyakit hati, sedangkan jika terjadi gangguan fungsi ginjal maka protein dalam diet sesuai dengan bersihan kreatinin (Zein, 2007)


0 comments: